Malam itu sangat cerah. Bintang-bintang bertaburan di angkasa. Dan bulan begitu ceriah menerangi lapangan rumput di Ranotana yang letaknya hanya 300 meter dari Stadion Klabat Manado. Ribuan orang memadati tempat ini. Ketika masih di Sekolah Dasar, aku pernah mengikuti pertandingan Bola Kasti di lapangan ini. Kali ini, di lapangan ini aku ditugaskan sebagai Kolektan. Malam pertama KKR digelar, kami Remaja GMIM Bethesda hanya bercanda-ria di belakang panggung. Pendeta Petrus berkhotbah begitu menarik, begitu semangat, kami tak perduli. Hari kedua, Pembina kami menegur, "Ngoni samua musti ada di dapan panggung. Kong dengar tu firman, (Kalian seharusnya ada di depan panggung, agar dapat mende- ngar firman dengan baik)".Aku tertempelak. Pembina yang satu ini memang sangat berwibawa, khususnya aku secara pribadi sangat respek kepadanya.
Selesai menjalankan tugas sebagai kolektan, kuputuskan untuk mendengar dengan serius apa yang akan disampaikan oleh hamba Tuhan. begitu mengena. Aku terharu. Selama ini, Yesus bagiku adalah sosok Pahlawan yang siap sedia menolongku dalam segala kesulitan. Aku sadar sekarang bahwa Yesus tidak hanya sekedar Penolong tetapi Dia adalah Tuhan yang harus disembah dan Juruselamat yang harus disaksikan kepada seluruh makhluk di seluruh penjuru bumi. Demikian juga dengan segala perbuatanku yang tercela.. Semuanya harus kuakui dan mohon pengampunan dan penebusanNya.
Selesai menjalankan tugas sebagai kolektan, kuputuskan untuk mendengar dengan serius apa yang akan disampaikan oleh hamba Tuhan. begitu mengena. Aku terharu. Selama ini, Yesus bagiku adalah sosok Pahlawan yang siap sedia menolongku dalam segala kesulitan. Aku sadar sekarang bahwa Yesus tidak hanya sekedar Penolong tetapi Dia adalah Tuhan yang harus disembah dan Juruselamat yang harus disaksikan kepada seluruh makhluk di seluruh penjuru bumi. Demikian juga dengan segala perbuatanku yang tercela.. Semuanya harus kuakui dan mohon pengampunan dan penebusanNya.
Tibalah acara yang disebut "ajakan/tantangan untuk menerima Kristus". Kengerian pun merasuk bathinku. Tak terasa bahkan tak kusadari aku telah melangkah mundur pada jarak 75 meter dari panggung. Tadinya aku berada hanya 6 langkah dari panggung.
Dari kejauhan kulihat nyala api berwarna biru, hijau dan kuning. Tepat di depan panggung. Setelah kuamati ternyata sedang diadakan pembakaran segala jenis hobatan (magic) yang dalam bahasa makatana (Minahasa) disebut "opo-opo". Orang-orang yang telah disadarkan akan karunia dan rahmat Tuhan telah mengambil keputusan untuk meninggalkan segala macam penyembahan berhala dan berpaling kepada Kristus.Bathinku berperang,
"Harus maju", bisik hatiku.
"Tidak usahlah", suara asing berbisik.
"Aku harus mengambil keputusan malam ini. Inilah yang didoakan ayahku, agar aku menjadi hamba Tuhan", semakin teguh hati kecilku.
"Nanti saja, kan masih ada acara esok hari", bisikan asing tadi terdengar lagi merayu.
Akhirnya dengan menutup telinga, aku beranjak ke depan menerobos pengunjung yang berkerumun menyaksikan peperangan rohani yang sedang berlangsung. Sementar melangkah ke depan, terdengar suara kawan-kawan, " Bertobat situ ye" (Insaf ni ye, logat Jakarta - red). Aku tak memperdulikannya.
Sambil bertelut, kami didoakan. Meggy Pelupessy dengan suaranya yang merdu menyanyikan lagu "Di pintu hatimu Yesus memanggil". Eddy Karamoy yang pernah dijuluki "Setan Gitar" mengiringi lagu tadi dengan petikan gitarnya yang mempesona. Begitu harmonis.
Saat itu pengakuan pribadi segala keberadaanku kucurahkan tuntas di hadiratNya, seraya membuka pintu hati memper-silahkan Yesus bertahta di dalam-nya.Hatiku bergetar keras. Bagai-mana tidak? Saat-saat perjumpaan pribadiku dengan Yesus begitu mengharukan sekaligus membang-gakan. Proses adopsi divinitas-ku begitu istimewa. Pertama, ka-rena memang Pribadi yang menebusku adalah Pribadi yang Maha Istimewa. Dan, prosesi perjumpaanku dengan Kristus diantar oleh seorang pendeta yang begitu sukses dalam dunia Ke-baktian Kebangunan Rohani (KKR).
Dengan nyanyian baru, aku pulang ke rumahku yang tak jauh dari lokasi KKR. Bintang-bintang menyertaiku dan bulan menerangi jalan-jalan yang kulalui sampai aku tiba di rumahku.
"Tuhan, Engkau telah memulai. Menjawab doa ayahku. Lanjut-kanlah ya Tuhan Yesus." Itulah doaku yang pertama sejak kudiperanakkan kembali oleh Roh Kudus. Malam itu, 5 Agustus 1976, dengan sukacita kubaring-kan tubuhku dan tidur begitu nyenyak bersama damai yang baru saja kumiliki.
Comments